Jakarta, 30 Agustus 2026 – Pameran Flora dan Fauna (FLONA) 2026 kembali menjadi salah satu ruang edukasi bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan berbagai jenis tanaman dan satwa, tetapi juga membuka kesempatan bagi pengunjung untuk memahami pentingnya menjaga lingkungan serta keberlanjutan ekosistem. Beragam koleksi flora dan fauna yang ditampilkan menjadi sarana pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya bagi anak-anak dan keluarga yang datang berkunjung. Melalui kegiatan seperti ini, pengetahuan mengenai tumbuhan, satwa, habitat, dan konservasi dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami. Kehadiran FLONA juga menunjukkan bahwa ruang publik dapat dimanfaatkan untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kekayaan alam Indonesia. Edukasi semacam ini menjadi semakin relevan karena tekanan terhadap lingkungan dan habitat alami terus menjadi perhatian dalam upaya menjaga keseimbangan ekosistem.
FLONA 2026 menghadirkan berbagai kegiatan yang memungkinkan masyarakat berinteraksi langsung dengan tema flora dan fauna dalam suasana yang lebih terbuka. Pengunjung tidak hanya melihat tanaman atau satwa sebagai bagian dari pameran, tetapi juga dapat memperoleh informasi mengenai karakteristik, manfaat, serta peran masing-masing dalam lingkungan. Penyampaian informasi secara langsung seperti ini dapat membantu masyarakat memahami bahwa keanekaragaman hayati memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Tumbuhan, misalnya, tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga berperan dalam menjaga kualitas udara, menyerap air, menyediakan habitat, serta mendukung berbagai rantai kehidupan. Demikian pula satwa memiliki fungsi ekologis yang penting dalam menjaga keseimbangan alam dan keberlangsungan ekosistem. Dengan pendekatan edukatif tersebut, FLONA dapat menjadi tempat untuk memperkenalkan konsep konservasi kepada masyarakat melalui pengalaman yang lebih nyata.
Keanekaragaman hayati Indonesia menjadi salah satu kekayaan alam yang memiliki nilai sangat besar karena wilayah Nusantara terdiri atas berbagai ekosistem dengan karakteristik yang berbeda. Hutan hujan tropis, kawasan pesisir, pegunungan, rawa, padang rumput, hingga ekosistem laut menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa. Setiap wilayah memiliki spesies yang memiliki peran tersendiri dalam menjaga keseimbangan lingkungan serta menjadi bagian dari kekayaan alam Indonesia. Namun, keberadaan berbagai spesies tersebut juga menghadapi tantangan berupa perubahan penggunaan lahan, kerusakan habitat, pencemaran, perburuan, serta perubahan iklim. Karena itu, pengenalan terhadap keanekaragaman hayati tidak cukup hanya dilakukan melalui buku atau pembelajaran di ruang kelas. Masyarakat perlu memperoleh pengalaman yang dapat menumbuhkan kepedulian sehingga mereka memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
FLONA juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai jenis tanaman yang memiliki manfaat bagi kehidupan masyarakat. Tanaman hias, tanaman pangan, tanaman obat, hingga jenis tanaman lokal dapat diperkenalkan dengan informasi mengenai karakteristik dan cara perawatannya. Pengetahuan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk lebih tertarik menanam dan merawat tumbuhan di lingkungan rumah maupun ruang publik. Di tengah semakin padatnya kawasan perkotaan, keberadaan ruang hijau memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan membantu menjaga kualitas udara. Kebiasaan sederhana seperti menanam pohon atau merawat tanaman dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan apabila dilakukan secara konsisten. Melalui edukasi yang diberikan dalam pameran, masyarakat dapat memahami bahwa pelestarian flora tidak harus selalu dimulai melalui kegiatan berskala besar, tetapi dapat dilakukan dari lingkungan terdekat.
Selain tumbuhan, unsur fauna menjadi bagian penting dalam penyampaian pesan konservasi pada FLONA 2026. Satwa Indonesia memiliki keragaman yang sangat luas dan sebagian di antaranya hanya dapat ditemukan di wilayah tertentu sehingga memiliki nilai ekologis sekaligus menjadi identitas kekayaan alam Nusantara. Pengenalan terhadap satwa dapat membantu masyarakat memahami perbedaan karakteristik setiap jenis dan alasan mengapa habitatnya perlu dilindungi. Anak-anak khususnya dapat memperoleh pengalaman baru dengan melihat berbagai informasi mengenai satwa yang mungkin sebelumnya hanya mereka kenal melalui gambar atau tayangan digital. Dari pengalaman tersebut, mereka dapat belajar bahwa satwa liar bukanlah hewan peliharaan yang dapat diperlakukan sembarangan, melainkan bagian dari ekosistem yang membutuhkan habitat alami. Kesadaran tersebut penting untuk mencegah perilaku yang dapat membahayakan satwa maupun mengganggu kelangsungan populasinya di alam.
Aspek edukasi dalam FLONA juga dapat mendorong masyarakat memahami hubungan antara kehidupan manusia dengan keberadaan ekosistem yang sehat. Banyak kebutuhan manusia bergantung pada kondisi lingkungan, mulai dari ketersediaan air bersih, pangan, udara yang berkualitas, hingga berbagai bahan yang berasal dari sumber daya alam. Ketika ekosistem mengalami kerusakan, dampaknya pada akhirnya dapat kembali dirasakan oleh masyarakat dalam bentuk berkurangnya sumber daya atau meningkatnya risiko bencana lingkungan. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya persoalan melindungi tumbuhan dan satwa, tetapi juga menjaga kualitas kehidupan manusia dalam jangka panjang. Karena itu, pesan mengenai keberlanjutan perlu disampaikan kepada masyarakat secara konsisten melalui berbagai ruang edukasi. FLONA menjadi salah satu tempat yang dapat mempertemukan informasi mengenai lingkungan dengan pengalaman langsung masyarakat dalam suasana yang lebih menarik.
Bagi keluarga, kegiatan seperti FLONA dapat menjadi alternatif pembelajaran di luar sekolah yang memberikan pengalaman berbeda kepada anak-anak. Orang tua dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan nama tumbuhan, jenis satwa, fungsi ekosistem, hingga kebiasaan sederhana dalam menjaga lingkungan. Pembelajaran yang dilakukan melalui pengamatan langsung biasanya memberikan pengalaman yang lebih mudah diingat karena anak dapat melihat objek dan informasi secara bersamaan. Anak juga dapat diajak berdiskusi mengenai alasan sebuah spesies perlu dilindungi atau mengapa pohon memiliki peran penting bagi lingkungan. Kebiasaan tersebut dapat membangun rasa ingin tahu sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap alam sejak usia dini. Jika dilakukan secara berkelanjutan, pengalaman sederhana dari sebuah pameran dapat berkembang menjadi kebiasaan menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
FLONA 2026 juga memiliki potensi untuk mempertemukan unsur edukasi dengan aktivitas ekonomi dan kreativitas masyarakat. Kehadiran pelaku usaha tanaman, komunitas lingkungan, penggiat konservasi, maupun pihak lain yang bergerak dalam bidang flora dan fauna dapat memberikan perspektif yang lebih beragam kepada pengunjung. Masyarakat dapat melihat bahwa menjaga keanekaragaman hayati tidak selalu bertentangan dengan aktivitas ekonomi selama dilakukan melalui prinsip pemanfaatan yang berkelanjutan. Budidaya tanaman, misalnya, dapat menjadi kegiatan ekonomi sekaligus mendukung penghijauan apabila dilakukan dengan memperhatikan jenis dan lingkungan yang sesuai. Demikian pula berbagai produk berbasis sumber daya alam perlu dikembangkan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan agar tidak menyebabkan eksploitasi berlebihan. Pertemuan berbagai unsur tersebut membuat FLONA memiliki ruang untuk menyampaikan pesan bahwa konservasi dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan.
Kegiatan edukasi mengenai keanekaragaman hayati juga penting karena sebagian masyarakat mungkin masih melihat konservasi sebagai persoalan yang hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu. Padahal, perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari turut menentukan kondisi lingkungan dalam jangka panjang. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, membeli satwa liar, merusak tanaman, atau menggunakan sumber daya alam secara berlebihan dapat memberikan dampak apabila dilakukan secara terus-menerus. Sebaliknya, kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan, menanam tanaman, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta tidak memperdagangkan satwa dilindungi dapat menjadi bentuk kontribusi masyarakat. Edukasi yang diberikan melalui kegiatan publik membantu menjelaskan hubungan antara tindakan individu dengan kondisi lingkungan secara lebih mudah. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi pengunjung pameran, tetapi juga membawa pesan konservasi ke lingkungan masing-masing.
Dari sisi perkotaan, penyelenggaraan FLONA juga memperlihatkan pentingnya menghadirkan ruang yang menghubungkan masyarakat dengan alam. Masyarakat yang tinggal di kawasan padat sering kali memiliki keterbatasan untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan alami sehingga kegiatan bertema flora dan fauna dapat menjadi sarana pengenalan yang menarik. Kehadiran tanaman dan informasi mengenai satwa di ruang publik dapat menciptakan suasana yang berbeda sekaligus memberikan kesempatan bagi warga untuk belajar mengenai lingkungan. Ruang semacam ini juga dapat membangun kesadaran bahwa kota tidak harus sepenuhnya didominasi bangunan dan aktivitas ekonomi, tetapi tetap membutuhkan unsur alam sebagai bagian dari kualitas kehidupan. Interaksi masyarakat dengan ruang hijau dapat membantu membangun kebiasaan untuk lebih menghargai keberadaan tanaman dan lingkungan sekitar. Karena itu, kegiatan seperti FLONA memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar pameran tahunan.
Keberadaan FLONA 2026 juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat pesan mengenai pentingnya melindungi spesies dan habitat yang menghadapi ancaman. Indonesia memiliki sejumlah satwa dan tumbuhan yang status konservasinya membutuhkan perhatian karena populasinya terus menghadapi tekanan. Edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu bagian penting dari upaya perlindungan karena pengetahuan dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan lingkungan dan satwa. Semakin banyak masyarakat memahami nilai suatu spesies, semakin besar peluang munculnya dukungan terhadap program pelestarian yang dilakukan di berbagai wilayah. Anak-anak dan generasi muda juga perlu menjadi sasaran utama karena merekalah yang akan menghadapi tantangan lingkungan dalam beberapa dekade mendatang. Kesadaran yang dibangun sejak sekarang dapat menjadi modal sosial untuk menjaga keanekaragaman hayati secara lebih konsisten di masa depan.
Pada akhirnya, FLONA 2026 tidak hanya menjadi tempat masyarakat melihat berbagai tanaman dan satwa, tetapi juga ruang untuk membangun pemahaman mengenai hubungan manusia dengan alam. Kekayaan keanekaragaman hayati Nusantara membutuhkan perhatian dari berbagai pihak karena keberadaannya berkaitan dengan keseimbangan ekosistem dan kualitas kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan edukasi yang dikemas dalam bentuk pameran dan interaksi publik, pesan konservasi dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dan mudah diterima. Masyarakat dapat memperoleh pengetahuan baru sekaligus memahami bahwa menjaga flora dan fauna bukan hanya pekerjaan pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Pengalaman yang diperoleh selama mengunjungi FLONA diharapkan dapat mendorong perubahan sederhana dalam perilaku masyarakat setelah mereka kembali ke lingkungan masing-masing. Dengan semakin kuatnya kesadaran publik, upaya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia dapat dilakukan secara lebih luas dan berkelanjutan.