Jakarta, 11 September 2026 – Perjalanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengalami gangguan setelah pesawat Air Force One yang digunakannya menghadapi masalah pada perangkat seluncur darurat atau emergency slide. Insiden terjadi di Joint Base Andrews, Maryland, ketika Trump bersiap melakukan perjalanan menuju Dallas, Texas, untuk menghadiri konvensi paruh waktu Partai Republik. Seluncur darurat pada pintu bagian depan kanan pesawat tiba-tiba mengembang ketika pesawat masih berada di landasan. Kondisi tersebut membuat keberangkatan Trump tertunda sekitar 20 menit karena personel Angkatan Udara AS harus melakukan pemeriksaan dan menangani perangkat tersebut sebelum pesawat dapat digunakan. Trump untuk sementara tetap berada di dalam helikopter Marine One ketika pemeriksaan berlangsung. Setelah dipastikan perjalanan dapat dilanjutkan, Trump kemudian naik ke pesawat dan terbang menuju Dallas.
Pesawat yang mengalami masalah merupakan Boeing 747-8 yang sebelumnya diberikan Qatar kepada Amerika Serikat dan kemudian dimodifikasi untuk digunakan sebagai pesawat kepresidenan sementara. Seorang sumber yang mengetahui kejadian tersebut menyebut personel militer secara tidak sengaja mengaktifkan seluncur darurat sebelum Trump naik ke pesawat. Perangkat tersebut berada pada sisi yang berlawanan dengan pintu yang biasa digunakan presiden untuk naik ke Air Force One. Seluncur yang sudah mengembang kemudian dilepaskan dan dibawa menjauh dari pesawat sebelum keberangkatan dilakukan. Boeing 747-8 pada umumnya dilengkapi sejumlah seluncur evakuasi yang dirancang agar penumpang dapat meninggalkan kabin dengan cepat dalam keadaan darurat. Perangkat tersebut menjadi bagian penting dari sistem keselamatan sehingga harus dipastikan dalam kondisi sesuai sebelum penerbangan dilanjutkan.
Trump sempat memberikan penjelasan singkat kepada wartawan mengenai penyebab keterlambatan keberangkatannya. Ia mengatakan petugas sedang memeriksa seluncur darurat dan memperkirakan pekerjaan tersebut membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Presiden AS itu menekankan pemeriksaan dilakukan untuk memastikan seluruh perangkat berfungsi sebagaimana mestinya. Ketika ditanya apakah dirinya tetap yakin pesawat aman untuk digunakan, Trump menyatakan keyakinannya dan mengatakan tidak akan berada di dalam pesawat apabila menganggapnya tidak aman. Pernyataan tersebut disampaikan sebelum ia menaiki Air Force One untuk melanjutkan perjalanan ke Texas. Setelah penanganan selesai, tidak dilaporkan adanya persoalan lain selama penerbangan menuju Dallas.
Insiden tersebut mendapatkan perhatian karena terjadi pada pesawat kepresidenan yang relatif baru digunakan Trump. Boeing 747-8 tersebut mulai digunakan sebagai Air Force One pada 1 Juli 2026 setelah melalui proses modifikasi yang dipercepat. Pesawat sebelumnya merupakan pemberian pemerintah Qatar dan memiliki nilai sekitar 400 juta dolar AS sebelum diserahkan untuk kepentingan pemerintah Amerika Serikat. Interior dan sejumlah sistem kemudian mengalami penyesuaian agar pesawat dapat digunakan untuk membawa presiden. Eksteriornya juga menggunakan skema warna merah, putih, biru tua, dan emas yang berbeda dari tampilan biru-putih klasik pesawat kepresidenan Amerika selama beberapa dekade. Pesawat itu dimaksudkan sebagai solusi sementara di tengah keterlambatan pengadaan armada Air Force One generasi berikutnya.
Kejadian seluncur darurat bukan persoalan pertama yang menarik perhatian sejak pesawat tersebut mulai digunakan. Pada perjalanan internasional pertamanya pada Juli, muncul kekhawatiran mengenai kemampuan perlindungan pesawat ketika Trump melakukan perjalanan ke luar negeri. Dalam salah satu bagian perjalanan tersebut, pengaturan penerbangan presiden harus diubah karena pertimbangan keamanan terkait ancaman dari Iran. Peristiwa itu memunculkan pertanyaan mengenai apakah pesawat sementara memiliki sistem perlindungan yang setara dengan Air Force One lama. Beberapa sistem pertahanan sensitif yang biasanya terdapat pada pesawat kepresidenan memang tidak dijelaskan secara terbuka karena berkaitan dengan keamanan presiden. Pemerintah AS juga membatasi informasi mengenai modifikasi keamanan yang dilakukan terhadap Boeing 747-8 tersebut.
Pesawat kemudian sempat ditarik sementara dari operasional pada Juli untuk mendapatkan peningkatan tambahan. Trump ketika itu mengatakan pesawat akan menjalani pekerjaan agar kemampuannya dapat dimaksimalkan, meskipun rincian perubahan tidak dipublikasikan. Pemerintah AS beralasan informasi mengenai peningkatan dan modifikasi Air Force One berkaitan dengan keamanan sehingga tidak seluruhnya dapat disampaikan kepada publik. Setelah kembali digunakan, pesawat menjalankan sejumlah penerbangan kepresidenan sebelum insiden seluncur darurat terjadi. Trump juga telah menyampaikan rencana pesawat tersebut kembali keluar dari layanan pada Oktober. Pekerjaan peningkatan keamanan yang direncanakan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 60 hari.
Penggunaan pesawat pemberian Qatar sejak awal telah menimbulkan perdebatan politik di Amerika Serikat. Kritik muncul mengenai penerimaan pesawat bernilai ratusan juta dolar dari pemerintah asing sekaligus biaya yang diperlukan untuk mengubahnya menjadi pesawat kepresidenan. Pesawat yang membawa Presiden Amerika Serikat membutuhkan modifikasi jauh lebih kompleks dibandingkan pesawat komersial biasa karena harus menyediakan sistem komunikasi, perlindungan, ruang kerja, serta berbagai perangkat pendukung pemerintahan. Keamanan siber dan perlindungan komunikasi juga menjadi perhatian karena presiden harus tetap dapat menjalankan fungsi pemerintahan ketika berada di udara. Proses pemeriksaan pesawat sebelum digunakan karena itu dilakukan secara ketat. Pemerintah Trump tetap mempertahankan keputusan menggunakan Boeing tersebut sebagai solusi sementara sebelum pesawat kepresidenan permanen generasi baru tersedia.
Armada lama Air Force One masih tersedia dan dapat digunakan ketika pesawat baru menjalani perawatan maupun peningkatan. Pesawat kepresidenan lama berbasis Boeing 747-200B telah digunakan sejak awal 1990-an dan memiliki berbagai sistem yang secara khusus dirancang untuk kebutuhan presiden. Ketika Trump tiba di Joint Base Andrews saat insiden terbaru terjadi, salah satu pesawat lama tersebut terlihat berada tidak jauh dari Boeing 747-8 yang mengalami masalah seluncur darurat. Namun, pergantian pesawat akhirnya tidak diperlukan karena masalah dapat ditangani dalam waktu relatif singkat. Keberangkatan hanya mengalami keterlambatan sekitar 20 menit dan tidak mengakibatkan pembatalan agenda presiden. Trump kemudian tiba di Texas untuk mengikuti agenda politik yang telah dijadwalkan.
Insiden tersebut juga memperlihatkan kompleksitas operasional penerbangan kepresidenan. Bahkan masalah yang relatif sederhana seperti seluncur darurat yang mengembang harus ditangani sebelum pesawat dapat membawa presiden. Setiap sistem keselamatan harus diperiksa karena Air Force One tidak hanya membawa kepala negara, tetapi juga staf Gedung Putih, personel keamanan, petugas komunikasi, dan sejumlah wartawan. Pesawat juga berfungsi sebagai pusat komando bergerak yang memungkinkan presiden tetap menjalankan tugas selama penerbangan. Karena itu, gangguan teknis sekecil apa pun dapat menyebabkan perubahan jadwal apabila dianggap memiliki potensi memengaruhi keselamatan. Dalam kasus terbaru, pemeriksaan berlangsung singkat sehingga jadwal Trump hanya mengalami keterlambatan terbatas.
Perjalanan Trump menuju Dallas akhirnya berlangsung tanpa gangguan tambahan setelah seluncur darurat dilepaskan dan pemeriksaan pesawat diselesaikan. Namun, kejadian tersebut menambah daftar persoalan yang menyertai penggunaan Boeing 747-8 sementara sebagai Air Force One sejak mulai beroperasi pada Juli. Pesawat masih dijadwalkan menjalani peningkatan keamanan lebih lanjut dalam beberapa pekan mendatang sebelum kembali digunakan untuk penerbangan kepresidenan. Pemerintah AS belum membuka secara terperinci sistem apa saja yang akan diperbarui karena sebagian besar informasi mengenai perlindungan Air Force One bersifat sensitif. Trump tetap menyatakan percaya terhadap keamanan pesawat dan melanjutkan perjalanan sesuai agenda setelah penundaan singkat tersebut. Insiden seluncur darurat kini menjadi pengingat bahwa pengoperasian pesawat kepresidenan membutuhkan pemeriksaan berlapis, terutama ketika armada baru masih menjalani berbagai penyesuaian setelah mulai digunakan.