Jakarta, 4 September 2026 – Jumlah korban meninggal akibat bencana banjir besar yang melanda kawasan Nepal dan perbatasan Tibet terus bertambah seiring berjalannya operasi pencarian dan evakuasi. Data terbaru pada Jumat menunjukkan sedikitnya 1.301 orang telah ditemukan meninggal dunia, sementara sekitar 5.339 orang masih dilaporkan hilang. Besarnya jumlah korban membuat bencana tersebut menjadi salah satu peristiwa banjir paling mematikan yang melanda kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir. Tim penyelamat masih menyisir permukiman, lembah sungai, lokasi proyek, serta berbagai kawasan yang tertimbun material lumpur dan bebatuan. Kondisi geografis yang sulit membuat proses pencarian berlangsung lambat, terutama di wilayah yang akses jalannya terputus akibat terjangan air. Jumlah korban masih berpotensi berubah karena proses pendataan dan pencarian terus berlangsung di berbagai titik terdampak.
Bencana bermula ketika aliran air dalam volume sangat besar menerjang kawasan sepanjang Sungai Trishuli dan sejumlah wilayah di dekat perbatasan Nepal dengan Tibet pada akhir Agustus. Air membawa lumpur, batu, pepohonan, dan berbagai material lain dengan kekuatan besar sehingga menghancurkan bangunan serta infrastruktur yang berada di jalurnya. Sejumlah laporan mengaitkan peristiwa tersebut dengan runtuhnya massa es dan material di kawasan pegunungan yang kemudian memicu gelombang banjir besar menuju lembah di bawahnya. Kecepatan air membuat sebagian warga hanya memiliki waktu sangat singkat untuk menyelamatkan diri. Permukiman, jalan raya, jembatan, pembangkit listrik, dan berbagai fasilitas lain mengalami kerusakan berat. Skala kehancuran tersebut membuat proses penanganan tidak hanya berfokus pada pencarian korban, tetapi juga membuka kembali akses menuju komunitas yang terisolasi.
Jumlah orang hilang yang masih mencapai ribuan menjadi tantangan terbesar dalam operasi penyelamatan. Petugas harus memeriksa wilayah yang sangat luas karena korban dapat terbawa aliran air hingga puluhan kilometer dari lokasi awal bencana. Material lumpur dan bebatuan yang menumpuk juga membuat proses pencarian membutuhkan alat berat serta tenaga dalam jumlah besar. Pada sejumlah lokasi, tim penyelamat harus menggunakan helikopter dan jalur alternatif karena akses darat belum dapat dilalui. Keluarga korban terus menunggu informasi mengenai kerabat mereka yang belum ditemukan. Pemerintah Nepal juga melakukan pembaruan data untuk menghindari pencatatan ganda antara orang yang sebelumnya dinyatakan hilang tetapi kemudian berhasil ditemukan atau telah mengungsi menuju wilayah lain.
Di tengah operasi pencarian yang berlangsung selama berhari-hari, muncul kabar mengenai korban yang berhasil ditemukan dalam keadaan hidup. Dua orang berhasil dievakuasi dari sebuah terowongan di fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Air Upper Trishuli 3A setelah terjebak selama sembilan hari. Keduanya diketahui bernama Kabir Maharjan dan Sanjay Sah yang berada di dalam fasilitas ketika gelombang banjir menerjang kawasan tersebut. Tim penyelamat berhasil mencapai mereka setelah melakukan pencarian intensif di area proyek yang mengalami kerusakan berat. Kedua korban kemudian mendapatkan penanganan medis dan dilaporkan berada dalam kondisi stabil. Penemuan tersebut memberikan harapan baru kepada keluarga korban lain meskipun peluang menemukan penyintas semakin mengecil seiring bertambahnya waktu sejak bencana terjadi.
Kawasan pembangkit listrik menjadi salah satu lokasi yang mengalami dampak berat karena sejumlah proyek berada tidak jauh dari jalur sungai. Setidaknya enam fasilitas pembangkit listrik tenaga air terdampak bencana dengan pekerja dan fasilitas operasional berada dalam jalur terjangan air. Sebagian pekerja berhasil menyelamatkan diri menuju tempat lebih tinggi, sementara lainnya sempat terjebak di dalam bangunan dan terowongan. Kerusakan pada sektor energi menambah kompleksitas penanganan karena pasokan listrik dibutuhkan untuk mendukung aktivitas masyarakat dan operasi pemulihan. Pemerintah harus melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum fasilitas yang terdampak dapat kembali digunakan. Kerusakan infrastruktur energi tersebut juga diperkirakan membutuhkan waktu panjang dan biaya besar untuk diperbaiki.
Bencana turut menghancurkan ribuan rumah dan membuat banyak keluarga kehilangan tempat tinggal. Perkiraan awal menunjukkan sekitar 20.000 rumah membutuhkan pembangunan kembali setelah mengalami kerusakan berat atau hancur sepenuhnya. Ribuan warga sementara harus tinggal di lokasi pengungsian maupun bersama kerabat karena wilayah tempat tinggal mereka belum aman untuk ditempati. Kebutuhan makanan, air bersih, obat-obatan, perlengkapan sanitasi, dan tempat berlindung menjadi prioritas selama masa tanggap darurat. Pemerintah dan organisasi kemanusiaan juga harus mengantisipasi munculnya persoalan kesehatan akibat terbatasnya akses terhadap air bersih dan sanitasi. Kondisi tersebut semakin menantang pada daerah terpencil yang hanya dapat dijangkau menggunakan helikopter atau perjalanan darat melalui jalur alternatif.
Korban bencana tidak hanya berasal dari masyarakat Nepal karena sejumlah warga negara asing juga berada di kawasan ketika banjir terjadi. Ratusan wisatawan, pekerja asing, serta warga negara lain masih masuk dalam pendataan korban hilang. Kawasan Himalaya merupakan tujuan wisata sekaligus jalur perdagangan dan proyek pembangunan yang melibatkan pekerja dari berbagai negara. Kedutaan besar dan perwakilan diplomatik kemudian bekerja sama dengan pemerintah Nepal untuk memperoleh informasi mengenai warga mereka. Identifikasi menjadi semakin sulit karena sebagian korban ditemukan tanpa dokumen atau dalam kondisi yang membutuhkan pemeriksaan forensik lebih lanjut. Pihak berwenang meminta keluarga sejumlah korban memberikan data pendukung, termasuk informasi medis dan sampel DNA apabila diperlukan untuk membantu proses identifikasi.
Operasi pencarian mendapatkan dukungan dari berbagai negara yang mengirimkan tenaga ahli maupun bantuan untuk memperkuat kemampuan Nepal menangani bencana. Tim internasional dari sejumlah negara bergabung dengan militer Nepal dan petugas lokal untuk mencari korban di kawasan yang paling parah terdampak. Helikopter digunakan untuk mengangkut personel, makanan, obat-obatan, serta mengevakuasi warga dari lokasi yang terputus. Teknologi komunikasi juga membantu koordinasi ketika jaringan konvensional mengalami gangguan akibat kerusakan infrastruktur. Pada sejumlah lokasi, komunikasi melalui aplikasi pesan dan perangkat satelit digunakan untuk mengetahui keberadaan korban maupun mengoordinasikan operasi. Kerja sama tersebut menjadi penting mengingat luasnya wilayah terdampak dan banyaknya orang yang masih belum ditemukan.
Kerugian ekonomi akibat bencana diperkirakan mencapai miliaran dolar AS karena kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah penduduk. Jalan, jembatan, fasilitas pembangkit listrik, jaringan komunikasi, tempat usaha, lahan pertanian, serta fasilitas publik mengalami kerusakan dalam berbagai tingkat. Perkiraan awal menempatkan nilai kerusakan properti dan infrastruktur pada kisaran 2,56 miliar dolar AS. Angka tersebut masih dapat berubah setelah pemerintah menyelesaikan penilaian terhadap seluruh kawasan terdampak. Pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu panjang karena sejumlah daerah harus membangun kembali infrastruktur hampir dari awal. Pemerintah Nepal menghadapi tantangan untuk menjalankan rehabilitasi sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat selama masa darurat tetap terpenuhi.
Fokus utama saat ini tetap diarahkan pada pencarian ribuan orang yang belum diketahui keberadaannya sekaligus memenuhi kebutuhan para penyintas. Dengan jumlah korban meninggal yang telah mencapai 1.301 orang dan sekitar 5.339 lainnya masih dinyatakan hilang, skala kemanusiaan dari bencana Nepal-Tibet masih sangat besar. Tim penyelamat belum menghentikan operasi meskipun medan sulit dan waktu terus berlalu sejak banjir pertama kali menerjang. Setiap wilayah yang sebelumnya tidak dapat dijangkau akan diperiksa setelah akses memungkinkan untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat. Pemerintah juga terus memperbarui data karena angka korban dapat berubah seiring hasil pencarian dan proses identifikasi. Setelah tahap darurat terlewati, Nepal menghadapi pekerjaan panjang untuk membangun kembali permukiman, infrastruktur, dan kehidupan masyarakat yang terdampak bencana tersebut.