Jakarta, 4 September 2026 – Dunia sepak bola Indonesia kehilangan salah satu sosok senior setelah mantan pemain sekaligus pelatih Iwan Setiawan meninggal dunia pada Kamis, 3 September 2026. Kabar kepergian Iwan menyebar di kalangan insan sepak bola nasional sejak Kamis pagi dan memunculkan ucapan belasungkawa dari sejumlah pelatih, mantan pemain, serta orang-orang yang pernah bekerja bersamanya. Sepanjang perjalanan kariernya, Iwan dikenal bukan hanya sebagai mantan pemain, tetapi terutama sebagai pelatih yang pernah menangani sejumlah klub besar dan tim nasional kelompok usia Indonesia. Karakternya yang tegas, terbuka, dan memiliki pandangan kuat mengenai sepak bola membuat sosok Iwan cukup dikenal dalam perjalanan kompetisi nasional. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga sekaligus banyak insan sepak bola yang pernah mendapatkan pengalaman dan pengetahuan darinya.
Kabar meninggalnya Iwan antara lain disampaikan oleh rekan sesama pelatih Rudy Eka Priyambada. Ucapan duka kemudian datang dari sejumlah tokoh sepak bola, termasuk Indra Sjafri yang mengenang komunikasi terakhirnya dengan Iwan mengenai filosofi sepak bola Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa Iwan masih aktif berdiskusi dan mengikuti perkembangan sepak bola nasional hingga menjelang akhir hidupnya. Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitasnya memang tidak hanya berpusat pada pekerjaan sebagai pelatih klub. Ia juga terlibat dalam pengembangan pelatih dengan menjadi instruktur pada berbagai kegiatan kepelatihan dan lisensi.
Iwan memiliki perjalanan panjang yang membuat namanya dikenal lintas generasi dalam sepak bola Indonesia. Ia pernah dipercaya menangani Timnas Indonesia U-17 dan menjalani pengalaman bersama sejumlah klub di berbagai tingkatan kompetisi nasional. Persija Jakarta menjadi salah satu klub yang cukup melekat dengan perjalanan kepelatihannya karena Iwan pernah mendapatkan kesempatan menangani tim ibu kota tersebut. Selain Persija, ia pernah bekerja bersama PSMS Medan, Borneo FC, Persela Lamongan, Persebaya Surabaya, Persiraja Banda Aceh, hingga Sriwijaya FC. Pengalaman berpindah dari satu klub ke klub lainnya membuat Iwan memahami berbagai karakter pemain, budaya tim, serta tekanan kompetisi di banyak daerah.
Dalam perjalanan sebagai pelatih, Iwan dikenal memiliki gaya komunikasi yang lugas dan terkadang memunculkan perhatian besar. Ia tidak ragu menyampaikan penilaian mengenai permainan tim, kualitas pemain, maupun persoalan sepak bola nasional secara terbuka. Karakter tersebut membuatnya menjadi salah satu figur yang mudah dikenali ketika berada di pinggir lapangan maupun dalam konferensi pers. Di balik gaya bicaranya yang tegas, sejumlah mantan pemain dan koleganya mengenang Iwan sebagai sosok yang senang berdiskusi mengenai sepak bola. Ia juga dikenal memiliki prinsip kuat terhadap metode dan pandangan kepelatihan yang diyakininya.
Pelatih Aji Santoso menjadi salah satu figur sepak bola yang memiliki kenangan khusus dengan Iwan. Aji mengenang Iwan sebagai mentor yang memberikan kesempatan kepadanya ketika mulai memasuki dunia kepelatihan setelah menyelesaikan karier sebagai pemain. Ketika itu, Aji mendatangi Iwan dan menyampaikan keinginannya untuk belajar sekaligus menjadi bagian dari staf kepelatihan. Kesempatan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Aji membangun karier sebagai pelatih. Hubungan keduanya tetap terjalin setelah masing-masing menjalani perjalanan panjang di berbagai klub, bahkan komunikasi mengenai sepak bola dan kehidupan masih sering dilakukan.
Mantan penjaga gawang Timnas Indonesia Kurnia Sandy juga mengenang karakter kuat yang dimiliki Iwan selama berkecimpung di dunia sepak bola. Menurut orang-orang yang mengenalnya, gaya bicara Iwan yang terbuka terkadang dapat memberikan kesan keras bagi mereka yang baru pertama kali berinteraksi dengannya. Namun, dalam diskusi sepak bola, karakter tersebut justru membuat pembicaraan berlangsung terbuka dan tidak berputar-putar. Iwan dinilai sebagai figur yang berani mempertahankan prinsip ketika meyakini sesuatu dalam pekerjaannya. Sikap tersebut menjadi salah satu karakter yang terus melekat pada dirinya sepanjang perjalanan sebagai pelatih.
Kenangan serupa datang dari sejumlah pemain yang pernah berada di bawah arahannya. Iwan dikenal mampu menggunakan komunikasi sebagai salah satu cara membangun motivasi pemain sebelum maupun setelah pertandingan. Ketegasannya tidak selalu mudah diterima, tetapi bagi sebagian pemain hal tersebut justru menjadi dorongan untuk meningkatkan performa. Ia juga memiliki perhatian terhadap kedisiplinan dan tanggung jawab pemain dalam menjalankan instruksi yang telah diberikan. Karakter kepelatihan seperti itu membuat pengalaman bekerja bersama Iwan meninggalkan kesan tersendiri bagi pemain yang pernah menjadi bagian dari timnya.
Perjalanan Iwan bersama sepak bola Indonesia juga memiliki hubungan erat dengan Aceh. Meski lahir di Medan, Sumatera Utara, ia memiliki hubungan keluarga dengan Aceh dan pernah menangani sejumlah tim dari daerah tersebut. Persiraja Banda Aceh menjadi salah satu klub yang pernah berada di bawah arahannya, selain sejumlah tim lain yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kariernya. Hubungan tersebut membuat kabar kepergiannya turut mendapatkan perhatian dari insan sepak bola Aceh. Bagi sejumlah pelatih dan pemain dari wilayah tersebut, Iwan tidak hanya dipandang sebagai pelatih yang datang bekerja, tetapi juga figur yang memiliki keterikatan dengan perkembangan sepak bola daerah.
Selain menangani klub, pengalaman bersama tim nasional kelompok usia menjadi bagian penting dalam rekam jejak Iwan. Ia pernah dipercaya memimpin Timnas Indonesia U-17, sebuah posisi yang menempatkannya dalam proses pembinaan pemain muda. Pekerjaan di kelompok usia membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan menangani pemain senior karena pelatih tidak hanya mengejar hasil pertandingan, tetapi juga berperan dalam membentuk dasar permainan dan karakter pemain. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu bekal Iwan ketika terlibat lebih jauh dalam kegiatan pendidikan kepelatihan. Pengetahuan yang diperoleh dari berbagai level kompetisi membuatnya memiliki banyak pengalaman untuk dibagikan kepada generasi pelatih berikutnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi Iwan semakin banyak diarahkan pada pengembangan sumber daya pelatih sepak bola Indonesia. Ia terlibat sebagai instruktur dalam berbagai kegiatan lisensi kepelatihan dan membagikan pengalaman yang dikumpulkannya selama puluhan tahun berada di lingkungan sepak bola. Peran tersebut membuat pengaruhnya tidak hanya dirasakan pemain yang pernah dilatih secara langsung, tetapi juga para pelatih yang mengikuti kegiatan pendidikan dan pengembangan lisensi. Kehadiran pelatih senior dalam kegiatan seperti itu memiliki nilai penting karena pengalaman praktis di lapangan dapat melengkapi materi teknis yang dipelajari peserta. Aktivitas tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian Iwan terhadap sepak bola nasional menjelang akhir kehidupannya.
Kepergian Iwan juga menjadi kehilangan karena sepak bola nasional membutuhkan figur berpengalaman yang dapat menjembatani pengetahuan antara generasi lama dan generasi baru. Pengalaman menangani klub dengan karakter berbeda memberikan perspektif yang tidak selalu diperoleh hanya melalui pendidikan formal kepelatihan. Selama perjalanan kariernya, sepak bola Indonesia mengalami berbagai perubahan format kompetisi, perkembangan metode latihan, hingga peningkatan tuntutan profesionalisme klub. Iwan menjadi salah satu pelaku yang mengalami langsung berbagai fase perubahan tersebut. Pengalaman panjang itu kemudian menjadi modal ketika dirinya berdiskusi maupun memberikan pengetahuan kepada pelatih yang lebih muda.
Salah satu hal yang paling banyak dikenang dari Iwan adalah keberaniannya menyampaikan pandangan mengenai sepak bola secara terbuka. Dalam sejumlah kesempatan ketika masih aktif menangani klub, pernyataannya dapat menjadi bahan pembicaraan karena disampaikan dengan gaya yang sangat lugas. Namun, karakter tersebut juga membuat Iwan memiliki identitas yang kuat sebagai pelatih. Ia tidak berusaha menghilangkan ciri pribadinya meskipun bekerja di lingkungan sepak bola yang memiliki tekanan tinggi. Prinsip mengenai komitmen terhadap pekerjaan dan keberanian mempertanggungjawabkan keputusan menjadi nilai yang dikenang sejumlah kolega setelah kabar kepergiannya.
Duka atas meninggalnya Iwan Setiawan pada akhirnya tidak hanya datang karena panjangnya daftar klub yang pernah ditanganinya. Jejak yang ditinggalkan juga berada pada pemain, pelatih, dan insan sepak bola yang pernah berdiskusi maupun bekerja langsung dengannya. Dari menangani tim nasional kelompok usia, klub-klub di berbagai daerah, hingga menjadi instruktur kepelatihan, perjalanan tersebut memperlihatkan keterlibatannya yang panjang dalam sepak bola Indonesia. Kehadirannya selama bertahun-tahun membuat Iwan menjadi bagian dari berbagai periode kompetisi nasional dengan dinamika yang terus berubah. Karena itu, kepergiannya turut meninggalkan ruang kosong bagi orang-orang yang selama ini mengenalnya sebagai rekan, mentor, maupun pelatih.
Sepak bola Indonesia kini harus melepas salah satu figur senior yang menghabiskan sebagian besar perjalanan profesionalnya di lapangan hijau. Iwan Setiawan meninggalkan jejak melalui perjalanan sebagai pemain, pelatih klub, pelatih kelompok usia Timnas Indonesia, hingga instruktur bagi generasi pelatih berikutnya. Ucapan belasungkawa dari berbagai insan sepak bola menjadi gambaran mengenai luasnya hubungan yang dibangun Iwan selama menjalani karier. Kenangan terhadap karakter tegas dan gaya komunikasinya yang terbuka akan tetap menjadi bagian dari cerita mengenai perjalanan sepak bola nasional. Di tengah duka keluarga dan orang-orang terdekat, kontribusi yang telah diberikannya melalui klub, tim nasional, serta pendidikan kepelatihan menjadi warisan yang akan tetap dikenang oleh lingkungan sepak bola Indonesia.