Seruyan, 4 November 2026 – Helikopter milik Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) mengalami kecelakaan ketika menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11/2026). Pesawat jenis Mi-17V5 dengan nomor registrasi HA-5235 tersebut dilaporkan jatuh di kawasan perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, saat mendukung operasi pemadaman melalui udara. TNI mengonfirmasi bahwa terdapat delapan personel di dalam helikopter ketika kecelakaan terjadi. Berdasarkan perkembangan penanganan hingga Rabu sore, enam personel telah ditemukan dan dievakuasi, dengan rincian lima orang selamat serta satu orang meninggal dunia. Sementara itu, dua personel lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan yang dikerahkan ke lokasi kejadian. Peristiwa tersebut langsung mendapat perhatian dari jajaran TNI dan aparat terkait karena terjadi ketika personel sedang menjalankan tugas penanggulangan bencana di wilayah Kalimantan Tengah.
Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas, membenarkan adanya kecelakaan helikopter yang sedang menjalankan operasi pemadaman karhutla di wilayah Seruyan. Dalam keterangan awal kepada awak media, ia menjelaskan bahwa helikopter tersebut membawa delapan personel dan proses penanganan darurat sedang berlangsung. Pihak TNI meminta masyarakat menunggu informasi resmi mengenai kondisi seluruh kru karena proses penyelamatan membutuhkan waktu dan koordinasi berbagai unsur. Informasi awal menyebutkan bahwa dua personel berhasil dievakuasi menggunakan helikopter Bell milik Penerbad dengan nomor registrasi HA-5172. Kedua personel tersebut kemudian dibawa menuju Bandara Kuala Pembuang untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Sementara itu, empat personel lainnya dilaporkan telah dievakuasi menuju pos Taman Nasional Tanjung Puting di kawasan Pematang Limau. Perkembangan tersebut menjadi dasar laporan awal bahwa enam dari delapan orang di dalam helikopter telah berhasil dijangkau petugas penyelamat.
Keterangan lebih lanjut disampaikan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat, Brigjen TNI Donny Pramono, yang menjelaskan kondisi korban berdasarkan hasil penanganan di lapangan. Menurut informasi yang disampaikan TNI AD, satu personel ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dan jenazahnya telah dievakuasi menuju Rumah Sakit Kuala Pembuang. Lima personel lainnya berhasil diselamatkan dan mendapatkan perawatan medis di rumah sakit yang sama. Sementara itu, dua personel masih menjadi fokus operasi pencarian dan evakuasi oleh petugas gabungan. Perbedaan antara laporan awal mengenai jumlah kru yang dievakuasi dan perkembangan kondisi korban menunjukkan bahwa informasi terus diperbarui seiring berlangsungnya operasi penyelamatan. TNI AD menegaskan bahwa prioritas utama adalah memastikan seluruh personel memperoleh pertolongan secepat mungkin. Upaya pencarian juga terus dilakukan untuk mengetahui keberadaan dua kru yang belum berhasil ditemukan berdasarkan laporan terakhir.
Berdasarkan kronologi yang disampaikan pihak berwenang, helikopter Mi-17V5 tersebut lepas landas dari Kuala Pembuang sekitar pukul 09.55 WIB. Pesawat dijadwalkan menjalankan penerbangan menuju kawasan Telaga Pulang untuk mendukung pemadaman karhutla di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting. Operasi tersebut menggunakan metode water bombing atau pengeboman air dari udara untuk membantu mengendalikan titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Namun, sekitar pukul 11.18 WIB, helikopter dilaporkan mengalami kecelakaan ketika melakukan pengambilan air untuk kebutuhan pemadaman. Lokasi kejadian berada di kawasan perairan Desa Sungai Perlu yang termasuk wilayah Kabupaten Seruyan. Setelah menerima informasi mengenai kecelakaan, unsur penerbangan dan tim penyelamat segera bergerak menuju lokasi untuk memberikan bantuan. Pihak TNI menyatakan bahwa penyebab pasti kecelakaan belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan penyelidikan lebih lanjut.
Proses evakuasi melibatkan berbagai unsur yang memiliki kemampuan penyelamatan melalui jalur udara maupun perairan. Salah satu helikopter yang turut membantu adalah pesawat milik Kementerian Kehutanan dengan registrasi PK-DAP yang sebelumnya sedang menjalankan kegiatan pemadaman di kawasan Pematang Limau. Berdasarkan laporan awal, kru helikopter tersebut menerima informasi mengenai kecelakaan melalui komunikasi radio dari helikopter Bell 412 milik Penerbad. Setelah memperoleh informasi, pesawat penyelamat bergerak menuju lokasi dan membantu memindahkan sejumlah kru dari perairan ke daratan. Helikopter Bell Penerbad kemudian turut mendukung proses pemindahan korban menuju Bandara Kuala Pembuang agar mereka dapat memperoleh penanganan medis. Pelaksanaan evakuasi membutuhkan koordinasi yang cermat karena petugas harus memperhatikan kondisi korban serta keselamatan penerbangan di sekitar lokasi kecelakaan. Keterlibatan beberapa unsur tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama dalam menghadapi keadaan darurat yang terjadi di kawasan dengan akses terbatas.
Kecelakaan helikopter tersebut terjadi di tengah upaya penanganan karhutla yang membutuhkan dukungan operasi udara di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Kawasan hutan dan lahan yang luas membuat pemadaman melalui jalur darat tidak selalu dapat dilakukan secara cepat, terutama ketika titik api berada jauh dari akses jalan. Penggunaan helikopter water bombing menjadi salah satu metode untuk membantu petugas menjangkau lokasi kebakaran dan mengurangi penyebaran api. Dalam pelaksanaannya, operasi penerbangan harus memperhatikan kondisi cuaca, jarak pandang, karakteristik medan, serta prosedur keselamatan ketika mengambil dan menjatuhkan air. Berbagai faktor tersebut merupakan bagian dari tantangan umum yang dihadapi kru penerbangan dalam operasi penanggulangan bencana. Meski demikian, belum terdapat kesimpulan resmi yang menyatakan bahwa salah satu faktor tersebut menjadi penyebab kecelakaan Mi-17V5 di Seruyan. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan agar kronologi dan penyebab kejadian dapat diketahui berdasarkan bukti teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pihak TNI AD menyatakan bahwa penyelidikan akan dilakukan untuk mengetahui penyebab kecelakaan yang menimpa helikopter tersebut. Pemeriksaan dapat mencakup kondisi teknis pesawat, riwayat penerbangan, situasi operasional, serta informasi yang diperoleh dari personel yang berhasil diselamatkan. Keterangan dari saksi dan kru yang berada di sekitar lokasi juga berpotensi membantu penyusunan kronologi secara lebih lengkap. Namun, proses pemeriksaan harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menghasilkan kesimpulan sebelum seluruh informasi yang diperlukan terkumpul. Di sisi lain, penanganan korban tetap menjadi perhatian utama karena lima personel yang selamat membutuhkan pemantauan medis setelah mengalami kecelakaan. Pencarian terhadap dua personel lainnya juga terus menjadi prioritas tim gabungan yang bertugas di lapangan. Hasil penyelidikan nantinya diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai penyebab insiden sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan operasi penerbangan penanggulangan bencana.
Peristiwa jatuhnya helikopter TNI AD di Kabupaten Seruyan menjadi duka bagi institusi militer setelah satu personel dinyatakan meninggal dunia dalam pelaksanaan tugas. Dari delapan kru yang berada di dalam pesawat, enam telah berhasil dievakuasi dengan lima orang selamat, sedangkan dua lainnya masih dalam proses pencarian berdasarkan keterangan resmi Rabu sore. Kecelakaan tersebut memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi petugas ketika menjalankan operasi kemanusiaan untuk melindungi masyarakat dan lingkungan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Dukungan berbagai unsur dalam proses evakuasi menjadi bagian penting untuk mempercepat penyelamatan sekaligus memastikan korban memperoleh penanganan yang diperlukan. Ke depan, evaluasi terhadap aspek teknis dan prosedur keselamatan penerbangan diharapkan dapat membantu mengurangi risiko kejadian serupa. Sementara itu, upaya penanggulangan karhutla tetap membutuhkan koordinasi yang baik agar kegiatan pemadaman dapat berlangsung dengan memperhatikan keselamatan seluruh petugas. Masyarakat diharapkan mengikuti perkembangan informasi resmi dari TNI dan instansi terkait mengenai kondisi korban, kelanjutan pencarian, serta hasil penyelidikan kecelakaan helikopter tersebut.