Jakarta, 5 Mei 2026 – Krisis air bersih di Gaza Strip semakin memprihatinkan. Warga dilaporkan hanya mampu mengakses sekitar 6 hingga 7 liter air per hari, jauh di bawah standar kebutuhan minimum untuk kehidupan layak.
Kondisi ini dipicu oleh kerusakan infrastruktur, terbatasnya pasokan listrik, serta dampak konflik berkepanjangan yang menghambat distribusi air bersih. Banyak sumber air yang tidak lagi layak konsumsi akibat pencemaran, sehingga meningkatkan risiko penyakit di tengah masyarakat.
Organisasi kemanusiaan menyatakan bahwa situasi ini telah memasuki tahap darurat. Air yang tersedia tidak hanya digunakan untuk minum, tetapi juga untuk memasak dan kebutuhan sanitasi, sehingga jumlah yang terbatas semakin memperburuk kondisi kesehatan warga.
Anak-anak dan kelompok rentan menjadi pihak yang paling terdampak. Kurangnya akses air bersih meningkatkan potensi penyebaran penyakit, terutama di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Gaza.
Berbagai lembaga internasional terus berupaya menyalurkan bantuan, termasuk pengiriman air bersih dan pembangunan fasilitas sanitasi darurat. Namun, tantangan di lapangan membuat distribusi bantuan tidak selalu berjalan lancar.
Para pengamat menilai bahwa solusi jangka panjang diperlukan untuk mengatasi krisis ini, termasuk perbaikan infrastruktur dan jaminan akses air yang berkelanjutan. Tanpa langkah konkret, kondisi krisis air di Gaza dikhawatirkan akan terus memburuk dan berdampak luas bagi kehidupan masyarakat.