Jakarta, 8 September 2026 – Lima bandar udara yang sebelumnya terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali dibuka untuk operasional penerbangan pada Selasa, 8 September 2026. Bandara tersebut adalah Radin Inten II di Lampung, Muhammad Taufiq Kiemas di Pesisir Barat Lampung, Budiarto di Curug, Pondok Cabe, serta Salakanagara Tanjung Lesung. Pembukaan dilakukan setelah evaluasi keselamatan menunjukkan kondisi di sekitar bandara memungkinkan operasional penerbangan kembali dilaksanakan. Keputusan tersebut melengkapi pembukaan sejumlah bandara lain yang dilakukan lebih dahulu setelah sempat terganggu akibat abu vulkanik. Meski aktivitas penerbangan mulai pulih, pemantauan terhadap pergerakan abu Anak Krakatau tetap dilakukan secara intensif.
Bandara Radin Inten II menjadi salah satu bandara yang paling mendapatkan perhatian karena memiliki peranan penting bagi konektivitas udara Lampung dengan sejumlah kota lainnya. Bandara tersebut kembali beroperasi berdasarkan pemberitahuan penerbangan yang berlaku mulai pukul 09.45 WIB hingga 23.59 WIB. Status operasional menyatakan bandara telah dibuka dan kegiatan penerbangan dapat kembali berjalan. Sebelum keputusan tersebut diterbitkan, pemeriksaan dilakukan secara berkala untuk memastikan tidak terdapat partikel abu vulkanik yang dapat membahayakan pesawat. Pemantauan sejak Senin malam hingga Selasa menunjukkan hasil pemeriksaan di kawasan bandara telah memenuhi pertimbangan keselamatan untuk pembukaan kembali.
Operasional Radin Inten II ditandai dengan keberangkatan penerbangan Garuda Indonesia GA 077 rute Lampung menuju Jakarta pada pukul 10.15 WIB. Penerbangan tersebut menjadi salah satu tanda dimulainya kembali aktivitas setelah sejumlah penerbangan sebelumnya harus dibatalkan akibat sebaran abu. Selama masa penutupan, pengelola bandara melakukan pemeriksaan dan pembersihan terhadap fasilitas sisi udara maupun sisi darat. Koordinasi juga dilakukan bersama otoritas penerbangan, maskapai, dan instansi terkait untuk memastikan landasan serta lingkungan penerbangan aman digunakan. Kondisi operasional selanjutnya tetap dapat berubah apabila aktivitas vulkanik kembali memengaruhi ruang udara.
Selain Radin Inten II, Bandara Muhammad Taufiq Kiemas juga kembali beroperasi mulai pukul 09.31 WIB. Bandara Budiarto di Curug telah lebih dahulu mendapatkan izin operasional mulai pukul 03.01 WIB, sedangkan Bandara Pondok Cabe dibuka mulai pukul 03.04 WIB. Sementara Bandara Salakanagara Tanjung Lesung kembali beroperasi mulai pukul 09.50 WIB. Pembukaan pada waktu yang berbeda dilakukan berdasarkan hasil evaluasi kondisi masing-masing wilayah udara dan bandara. Keselamatan tetap menjadi dasar utama sebelum izin operasional diberikan kembali.
Sebelumnya, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Husein Sastranegara juga telah kembali melayani penerbangan mulai Selasa dini hari. Soekarno-Hatta dan Halim merupakan dua bandara yang memiliki aktivitas penerbangan cukup tinggi sehingga penghentian sementara operasional memberikan dampak luas terhadap perjalanan masyarakat. Pembukaan kembali dilakukan setelah kondisi sebaran abu dinilai memungkinkan aktivitas penerbangan berlangsung dengan sejumlah langkah kewaspadaan. Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan, bahkan telah kembali beroperasi sejak Senin, 7 September 2026. Secara bertahap, jaringan penerbangan yang sebelumnya terganggu kini mulai kembali tersambung.
Gangguan operasional terjadi setelah abu vulkanik Anak Krakatau memasuki sejumlah wilayah udara yang digunakan untuk penerbangan. Kondisi tersebut membuat beberapa bandara harus menghentikan sementara kegiatan kedatangan dan keberangkatan pesawat. Penutupan dilakukan karena abu vulkanik memiliki karakter yang berbeda dari awan biasa dan dapat menimbulkan risiko serius terhadap penerbangan. Partikel halus dapat masuk ke mesin pesawat, mengganggu berbagai komponen, serta mengurangi visibilitas selama penerbangan. Karena itu, penerbangan baru dapat kembali dilakukan setelah pemeriksaan menunjukkan risiko telah berada pada tingkat yang dapat ditangani secara aman.
Salah satu metode pemeriksaan yang dilakukan adalah paper test volcanic ash di sejumlah lokasi bandara terdampak. Pemeriksaan tersebut dilakukan secara berkala untuk mendeteksi keberadaan partikel abu yang masih berada di lingkungan bandara. Hasil pengujian terbaru di sejumlah lokasi menunjukkan kondisi negatif atau tidak ditemukan partikel abu yang menghambat pembukaan kembali operasional. Informasi tersebut kemudian dikombinasikan dengan data mengenai pergerakan awan abu dan kondisi ruang udara. Evaluasi menyeluruh menjadi dasar sebelum pemberitahuan penerbangan diterbitkan untuk membuka kembali masing-masing bandara.
Kendati lima bandara telah kembali beroperasi, pilot dan seluruh kru penerbangan tetap diminta meningkatkan kewaspadaan. Awan abu vulkanik Anak Krakatau masih dapat terdeteksi pada bagian tertentu dari ruang udara dan pergerakannya sangat dipengaruhi oleh arah serta kecepatan angin. Perubahan aktivitas erupsi juga dapat membuat kondisi yang sebelumnya aman kembali mengalami gangguan dalam waktu relatif cepat. Karena itu, informasi mengenai wilayah udara yang harus dihindari terus diperbarui dan disampaikan kepada operator penerbangan. Maskapai juga harus memastikan kondisi armada sebelum pesawat kembali digunakan setelah sebelumnya berada di kawasan yang terdampak abu.
Pembukaan kembali bandara menjadi perkembangan penting bagi penumpang yang mengalami pembatalan maupun perubahan jadwal dalam beberapa hari terakhir. Gangguan akibat erupsi Anak Krakatau sebelumnya menyebabkan banyak penerbangan harus ditunda, dibatalkan, atau dialihkan menuju bandara alternatif. Dampaknya tidak hanya dirasakan penumpang dari dan menuju Jakarta, tetapi juga masyarakat di Lampung, Banten, Bandung, dan sejumlah daerah lainnya. Kembali beroperasinya bandara secara bertahap memungkinkan maskapai mulai menata ulang jadwal dan mengangkut penumpang yang sebelumnya tertunda. Namun, pemulihan jadwal penerbangan diperkirakan membutuhkan waktu karena maskapai harus menyesuaikan posisi pesawat dan kru setelah rangkaian gangguan operasional.
Calon penumpang tetap diminta memastikan status penerbangan sebelum berangkat menuju bandara. Meskipun bandara sudah dinyatakan kembali beroperasi, jadwal masing-masing maskapai belum tentu langsung kembali seperti kondisi normal karena terdapat penerbangan yang membutuhkan penyesuaian. Pemeriksaan status penerbangan menjadi penting untuk menghindari penumpukan penumpang di terminal. Maskapai juga dapat melakukan perubahan jadwal apabila kondisi abu vulkanik kembali berkembang. Keselamatan penerbangan tetap menjadi pertimbangan utama dibandingkan ketepatan jadwal selama aktivitas Anak Krakatau masih berlangsung.
Kembali beroperasinya Radin Inten II dan empat bandara lainnya menandai semakin pulihnya konektivitas penerbangan setelah beberapa hari terganggu sebaran abu Anak Krakatau. Meski demikian, pembukaan bandara tidak berarti pemantauan terhadap aktivitas vulkanik dihentikan. Kondisi ruang udara, hasil pemeriksaan abu, perkembangan erupsi, serta arah angin akan terus dievaluasi untuk menentukan keamanan penerbangan. Operator bandara dan maskapai juga diminta mempertahankan koordinasi agar perubahan kondisi dapat segera direspons. Dengan sebagian besar operasional penerbangan kembali berjalan, perhatian berikutnya diarahkan pada normalisasi jadwal sekaligus memastikan keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama.