Jakarta, 12 Oktober 2026 – Menteri Perindustrian (Menperin) menargetkan kontribusi sektor industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dapat mencapai 25 persen. Target tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat struktur perekonomian melalui peningkatan aktivitas industri pengolahan. Sektor manufaktur dinilai memiliki peranan strategis karena mampu menciptakan nilai tambah, menyerap tenaga kerja, serta mendukung pertumbuhan ekspor nasional. Peningkatan kontribusi industri terhadap PDB juga diharapkan dapat memperkuat daya saing Indonesia dalam menghadapi persaingan ekonomi global. Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah perlu mendorong investasi, produktivitas, dan pengembangan industri yang memiliki nilai tambah tinggi.
Target kontribusi manufaktur sebesar 25 persen menunjukkan pentingnya sektor industri sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Industri pengolahan memiliki keterkaitan dengan berbagai sektor lain, mulai dari pertanian, pertambangan, perdagangan, hingga jasa transportasi. Ketika aktivitas manufaktur meningkat, permintaan terhadap bahan baku, tenaga kerja, dan layanan pendukung juga berpotensi mengalami pertumbuhan. Hubungan antarsektor tersebut dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas apabila didukung oleh rantai pasok yang kuat. Oleh karena itu, peningkatan peranan manufaktur tidak hanya berfokus pada pertumbuhan produksi, tetapi juga pada penguatan ekosistem industri secara keseluruhan.
Salah satu strategi yang dapat mendukung pencapaian target tersebut adalah percepatan hilirisasi industri berbasis sumber daya alam. Indonesia memiliki berbagai komoditas yang berpotensi diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi sebelum dipasarkan. Pengembangan industri pengolahan mineral, produk pertanian, serta bahan baku lainnya dapat membantu meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Langkah tersebut juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah yang memiliki nilai pengolahan terbatas. Namun, pelaksanaan hilirisasi perlu memperhatikan ketersediaan energi, kesiapan teknologi, serta keberlanjutan lingkungan agar manfaat ekonominya dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Selain hilirisasi, peningkatan investasi menjadi faktor penting dalam memperbesar kapasitas produksi industri manufaktur nasional. Penanaman modal dibutuhkan untuk pembangunan fasilitas produksi baru, modernisasi mesin, serta pengembangan teknologi industri. Investasi juga dapat membuka peluang kerja dan memperluas keterlibatan perusahaan domestik dalam rantai pasok. Untuk menarik investasi yang berkualitas, kepastian regulasi, kemudahan perizinan, dan ketersediaan infrastruktur menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan. Pemerintah diharapkan mampu menciptakan iklim usaha yang mendukung pertumbuhan industri sekaligus memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.
Transformasi teknologi turut menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kontribusi manufaktur terhadap PDB. Pemanfaatan otomatisasi, kecerdasan buatan, dan sistem produksi berbasis data dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional. Penerapan teknologi juga memungkinkan industri memperbaiki kualitas produk serta mempercepat proses produksi. Meski demikian, modernisasi membutuhkan kesiapan sumber daya manusia agar tenaga kerja mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri. Pengembangan pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan, dan kerja sama dengan dunia usaha menjadi langkah penting dalam mendukung transformasi tersebut.
Penguatan industri kecil dan menengah juga diperlukan agar pertumbuhan manufaktur dapat berlangsung secara lebih merata. Pelaku industri skala kecil memiliki peranan dalam menyediakan produk kebutuhan masyarakat serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah. Namun, sebagian pelaku usaha masih menghadapi tantangan dalam memperoleh pembiayaan, teknologi, dan akses pasar yang lebih luas. Dukungan terhadap peningkatan kualitas produksi, sertifikasi, serta digitalisasi usaha dapat membantu memperkuat daya saing mereka. Dengan keterlibatan industri kecil dan menengah, peningkatan kontribusi manufaktur diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi hingga tingkat daerah.
Di tengah persaingan global, industri manufaktur Indonesia juga perlu meningkatkan kemampuan menghasilkan produk yang memenuhi standar pasar internasional. Perubahan permintaan konsumen, perkembangan teknologi, serta kebijakan perdagangan berbagai negara dapat memengaruhi peluang ekspor. Karena itu, diversifikasi produk dan perluasan tujuan ekspor menjadi strategi yang penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar tertentu. Industri nasional juga perlu memperhatikan efisiensi logistik dan kualitas produk agar mampu bersaing dari sisi harga maupun mutu. Penguatan akses pasar internasional dapat membantu memperbesar kontribusi manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi.
Tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan energi dan bahan baku dengan harga yang kompetitif. Industri manufaktur membutuhkan pasokan listrik, gas, serta infrastruktur transportasi yang andal untuk menjaga kelancaran proses produksi. Gangguan pasokan atau peningkatan biaya energi dapat memengaruhi efisiensi perusahaan dan daya saing produk yang dihasilkan. Selain itu, ketergantungan terhadap bahan baku impor pada sejumlah subsektor industri masih menjadi persoalan yang perlu diatasi secara bertahap. Penguatan industri pendukung di dalam negeri dapat membantu menciptakan rantai pasok yang lebih tangguh terhadap perubahan kondisi global.
Target kontribusi manufaktur sebesar 25 persen terhadap PDB menjadi sasaran yang membutuhkan koordinasi antara pemerintah, pelaku industri, investor, dan lembaga pendidikan. Pencapaiannya tidak hanya ditentukan oleh peningkatan jumlah pabrik, tetapi juga oleh produktivitas, inovasi, kualitas tenaga kerja, dan kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah. Pemerintah perlu memastikan kebijakan industrialisasi berjalan konsisten serta mampu menjawab tantangan yang dihadapi dunia usaha. Evaluasi terhadap perkembangan investasi, produksi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja juga diperlukan untuk mengukur efektivitas berbagai program. Melalui penguatan ekosistem industri yang berkelanjutan, sektor manufaktur diharapkan semakin besar kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.