Jakarta, 7 November 2026 – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sembilan perusahaan masih berada dalam antrean penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) hingga 6 November 2026. Dari jumlah tersebut, tiga perusahaan memiliki aset berskala besar dengan nilai lebih dari Rp250 miliar. Kehadiran calon emiten tersebut menunjukkan masih adanya minat perusahaan untuk memperoleh pendanaan melalui pasar modal. Sektor kesehatan menjadi penyumbang terbanyak dalam daftar perusahaan yang tengah mempersiapkan pencatatan saham perdana.
Berdasarkan data BEI, empat dari sembilan calon emiten berasal dari sektor kesehatan atau setara dengan 44,4 persen dari keseluruhan antrean. Sementara itu, sektor bahan baku dan energi masing-masing menyumbang dua perusahaan dengan kontribusi sekitar 22,2 persen. Satu perusahaan lainnya berasal dari sektor keuangan dengan porsi 11,1 persen. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa rencana pencatatan saham baru masih terkonsentrasi pada sejumlah sektor tertentu. Adapun sektor teknologi, properti, infrastruktur, dan transportasi belum tercatat dalam antrean IPO terbaru.
Dari sisi ukuran perusahaan, mayoritas calon emiten masuk dalam kategori aset skala menengah. Sebanyak lima perusahaan memiliki total aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Tiga perusahaan lainnya tergolong beraset besar dengan nilai di atas Rp250 miliar, sedangkan satu perusahaan memiliki aset kurang dari Rp50 miliar. Pengelompokan tersebut mengacu pada ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 53/POJK.04/2017. Perbedaan skala aset menunjukkan bahwa peluang penghimpunan dana melalui pasar modal terbuka bagi perusahaan dengan berbagai ukuran usaha.
Sepanjang 2026 hingga 6 November, BEI mencatat tujuh perusahaan telah resmi melaksanakan pencatatan saham perdana. Dari seluruh aksi IPO tersebut, total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun. Jumlah ini menggambarkan aktivitas penghimpunan modal melalui penerbitan saham baru yang telah terealisasi sepanjang tahun berjalan. Meski masih terdapat sembilan perusahaan dalam antrean, realisasi pencatatan berikutnya akan bergantung pada penyelesaian persyaratan dan kesiapan masing-masing perusahaan. BEI juga terus mendorong peningkatan kualitas calon emiten agar perusahaan yang masuk ke pasar modal memiliki fundamental dan tata kelola yang memadai.
Selain IPO, aktivitas penghimpunan dana melalui penerbitan efek bersifat utang dan sukuk juga menunjukkan perkembangan. Hingga awal November 2026, tercatat sebanyak 156 emisi dari 67 penerbit dengan total dana mencapai Rp157,73 triliun. BEI juga masih mengantongi 29 rencana emisi dari 19 penerbit yang berada dalam antrean. Sektor infrastruktur menjadi salah satu penyumbang utama rencana penerbitan tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mengandalkan penjualan saham, tetapi juga memanfaatkan instrumen utang untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan.
Aktivitas penambahan modal melalui mekanisme rights issue turut menjadi perhatian dalam perkembangan pasar modal nasional. BEI mencatat sebanyak 16 perusahaan telah melaksanakan penerbitan saham baru melalui hak memesan efek terlebih dahulu hingga 6 November 2026. Total nilai dana yang dihimpun dari aksi korporasi tersebut mencapai Rp37,35 triliun. Selain itu, masih terdapat satu perusahaan dari sektor properti dan real estat yang masuk dalam antrean rights issue. Beragam aktivitas penghimpunan dana ini memperlihatkan peran pasar modal sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi dunia usaha.
Keberadaan sembilan calon emiten dalam antrean IPO menjadi perhatian investor menjelang akhir 2026. Namun, masuknya perusahaan dalam daftar persiapan pencatatan belum menjamin seluruhnya akan melantai di bursa pada tahun yang sama. Setiap calon emiten masih harus memenuhi persyaratan administrasi, keterbukaan informasi, dan ketentuan pencatatan yang berlaku. Investor juga perlu mencermati prospektus, kondisi keuangan, serta risiko bisnis sebelum mengambil keputusan investasi. Dengan pengawasan dan seleksi yang memadai, penambahan perusahaan tercatat diharapkan dapat mendukung perkembangan pasar modal Indonesia secara berkelanjutan.